Aku Pilih Belanda!

Nama   : Annisa Ramadanti

NRP    : H14100025

Laskar : 9 (Cipto Mangunkusumo)

Cerita ini sekaligus sebagai ungkapan terima kasih aku untuk keluarga dan teman-teman yang dengan senang hati mendukung sala satu cita-citaku ini. Ya, mungkin, sebagian keluarga dan teman-temanku sudah tahu bahwa aku bercita-cita untuk bisa kuliah di Belanda. Karena aku ingin kuliah di Belanda, saat piala dunia kemarin, aku pun mendukung timnas Belanda. Tapi, saat aku bilang bahwa aku ingin kuliah di Belanda atau aku bilang bahwa aku mendukung Belanda, banyak juga orang yang bilang atau berkomentar seperti ini,

Keluarga          : “Nanti, lanjutin kuliah di luar negeri aja Ca (panggilanku)!”

Aku                 : “Amiin. Emang pengen banget.”

Adikku            : “Emang pengen kuliah di Belanda.”

Aku hanya tersenyum.

Keluarga          : “Loh, kenapa Belanda?”

Adikku            : “Pengen ketemu tulip!”

Aku lagi-lagi tersenyum, teringat bahwa aku memang ingin bertemu tulip. Tapi, tidak hanya itu kok alasanku.

Aku                 : “Aku insyaAllah mau lanjut kuliah di Belanda?”

Seseorang        : “Kenapa Belanda? Mendingan Jepang (atau Jerman)!”

Seseorang (s.s.o)         : “Dukung apa, R (panggilanku juga)?”

Aku                             : “Belanda dooong!”

S.s.o                            : “Ih, Belanda! Penjajah tau! Huuu penjajah huuu!

Atau dalam versi lainnya,

S.s.o                            : “Belanda? Penjajah tau! Paraaaah!”

Aku                             : “Iiiih emangnya kenapa siiih?!!”

Aaaaah pokoknya banyak deh yang bilang seperti itu, PENJAJAH, PENJAJAH, dan PENJAJAH. Jujur saja, aku bosan sekali mendengar komentar seperti itu hehe.

Kenapa?

Nah, untuk pertanyaan yang satu ini, aku bersedia menanggapi dan menjawab. Keinginanku untuk bisa kuliah di Belanda bermula dari kekagumanku pada bunga tulip. Aku mulai suka bunga tulip saat aku melihat bunga tulip di kardus Holland Bakery (kalian tahu, kan?). Selain itu, setelah UN SMA, ibuku membelikanku beberapa novel karena aku sudah rindu membaca novel. Nah¸ salah satu novelnya adalah Negeri van Oranje. Novel ini bercerita tentang lima sekawan yang kuliah di Belanda. Gokil deeeh gaya berceritanya. Tulip dan novel itulah yang membuatku memilih Belanda. Ya, begitulah, kawan!

Tapi, aku harus  berterima kasih atas komentar dan pertanyaan yang kudapat. Karena semua hal itu telah membuatku berpikir. Inilah hasil pikiranku…

“BELANDA? IH PENJAJAH JUGA! PENJAJAH! PENJAJAH! PENJAJAAAAAAAA…”

I said inside my heart: Memangnya kenapa? Lagipula aku nggak mau belajar menjajah kok. Lagipula sekarang udah nggak menjajah kok. Aku mau belajar banyak hal-hal baik di sana. Ingin belajar dengan suasana internasional. Ingin bertemu tulip. Ingin melihat windmill yang sebenarnya. Ingin belajar gardening. Ingin ke Keukenhoff. Ingin mendarat di Schipol. Ingin merasakan lengangya dan lancarnya lalu lintas. Ingin naik sepeda secara bebas, aman, nyaman, tertib, dan asyik di Belanda. Kenapa sih orang-orang melihat Belanda dari sisi JAJAHnya itu? Dari sisi negatifnya? Bukankah banyak yang bisa dipelajari?

Begitulah…

Tahukah kalian… Ada SATU ORANG yang terang-terangan dan secara LANGSUNG mendukungku untuk kuliah di Belanda. Tahu siapa? Dialah MAS HAQI, kakak sepupuku.
Mas Haqi         : “Kenapa kuliah di IPB sih Ca?”
Seseorang        : “IPB juga bagus kali!”
Mas Haqi         : “Dulu sih iya!”
Ica                   : “Yeh, emang kenapa?! Liat ya, nanti Ica ke Belanda, Mas!” (astaghfirullah… lupa bilang insyaAllah hehehe bermaksud optimis, takut jadi takabur nih…)
Mas Haqi: OK, nanti Mas Haqi mau ke Seoul, Ca!

Deg!!!

Hey, Hello!!! Look at that ‘OK‘! Mas Haqi langsung menyetujui atau mendukung tanpa banyak komentar. Ini kan berarti Mas Haqi yakin aku (insyaAllah) BISA! Subhanallah terima kasih Mas Haqi!!!! Mengapa orang-orang malah sibuk dengan ‘PENJAJAH’ itu?! Hahaha Mas Haqi benar-bener menambah semangat Ica.

Hai teman-teman bukankah ada kalimat ‘bermimpilah setinggi-tingginya’ atau ‘bermimpilah setinggi langit’? Ayo bermimpi, berusaha meraih mimpi, berdo’a untuk meraih mimpi, dan hargai serta dukung mimpi teman-temanmu! Semangat dan dukungan dari teman-teman juga keluarga akan sangat berarti bukan? hehehe

Ica pilih Belanda! Tapi Allah yang menentukan^^

Nama   : Annisa Ramadanti

NRP    : H14100025

Laskar : 9 (Cipto Mangunkusumo)

Cerita ini datang dari pengalamanku bersama keluarga saat berkunjung ke negeri Singa itu, Singapura atau kerennya Singapore (emang keren kok! Hehe). Kawan, kami sampai di Singapura sekitar tiga tahun lalu, saat aku masih kelas satu SMA. Aku excited banget untuk pergi ke sana. Kenapa? Karena ini perjalanan ke luar negeriku yang pertama kali apalagi ditemani oleh keluarga terdekatku. Aku pikir, sepertinya akan banyak keasyikan dan pelajaran penting yang akan kudapatkan dari sana. Dari Indonesia, aku sudah punya target, apa yang ingin kulakukan saat berada di sana. Target sederhanaku itu adalah:

  1. 1. Aku ingin sholat di salah satu masjid di Singapura
  2. 2. Aku ingin beli buku berbahasa Inggris di sana
  3. 3. Aku harus berusaha ngobrol bahasa Inggris di sana meski sedikit

Sederhana kan? Selama perjalanan ke sana, aku mengalami beberapa kejadian unik dan tentunya banyak pelajaran penting yang kudapat dari sana.

Pengalaman unik yang pertama adalah saat aku masih di Bandara Soekarno-Hatta. Saat sedang menunggu uwa mengurus tiket (aduh, apa teh bahasa kerennya? Hehehe ini nih akibat dari kurang memperhatikan hal-hal kecil tapi penting), aku duduk di sebelah seorang perempuan. Terjadilah dialog singkat antara kami berdua. Aku lupa susunan kalimatnya, tapi intinya adalah seperti ini, “Mau ke mana mba?” tanya mba di sebelahku itu. Dengan bangganya (plus senyuman pula hehe) kujawab, “Mau ke Singapur.” Mba itu bertanya lagi, “Ooh ma kerja ya mba?” Batinku dalam hati, “Ampun deh, emang keliatan mau kerja apa? Ih, kayanya gue dikira TKI nih haduduuuh.” Akhirnya kujawab (masih dengan senyuman namun kali ini plus sedikit tersinggung hehe) “Emmmh, ngga kok. Mau jalan-jalan hehe.” Mmm beneran deh tersinggung hahaha. Aku langsung lapor ke Ibu tentang hal tadi dan Ibu langsung tertawa menanggapinya, “Makanya pakai baju tuh yang kerenan dikit.” Batinku, “Wah, bener nih, masalahnya terletak pada pakaianku. Perasaan normal-normal aja deh (perasaan…)” Itulah pengalaman unik sekaligus pelajaran (kecil) pertama, PERHATIKAN PENAMPILAN!

Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk tiba di sana. Ketika hendak mendarat, daratan Singapur sudah terlihat dekat dari pesawat. Hal pertama yang terpikir ‘WOOOW, dari atas aja kok udah keliatan RAPI (tata letaknya), BERSIH, dan HIJAU. Gimana pas udah di sana?’ Sampailah kami di Changi Airport. Lagi-lagi, ‘WOOOW, keren banget nih bandara! Pake karpet, luas, dingin, dan canggih. Kerasa deh hawa internasionalnya.’ Jadilah kami foto-foto di sana (orang Indonesia banget ya? Suka foto-foto, padahal banyak yang harus dipelajari dari bandara itu). OK, lanjut! Setelah itu, kami naik taxi untuk ke hotel. Lagi-lagi tercengang, ‘HAH! INI TAXI? BAGUS AMAT?’ Hmmm langsung deh diketawain sama uwa, ‘Yah Ca (panggilanku), Taxi di sini mah keren-keren.’ Ketercengananku masih berlanjut. Selama di taxi, uwa-ku yang sudah pernah ke Singapura banyak bercerita tentang LALU LINTAS Singapura yang TOP banget. Inilah, pelajaran keduanya, tentang lalu lintas di Singapura (yang nggak bikin naik darah hahaha):

  1. Selamat tinggal macet. Wiiih, lancar banget. Otomatis perjalanan jadi cepat dong.
  2. Polisi? Jarang terlihat! Loh, kok bisa lancar? Karena, lalu lintas di sana di pantau oleh teknologi (kaya kamera gitu deh), bukan polisi! Siapa yang melanggar, akan terlihat dari sejenis kamera perekam itu dan akan dihukum. Jadi mikir, ‘Di Indonesia banyak polisi di jalanan, tapi kok? Emang bukan salah polisi aja sih, tapi kitanya juga HARUS SADAR DIRI! Apa susahnya sih mematuhi peraturan lalu lintas?’ Tapi, tentang polisi, jujur aja nih, aku bingung sama cara kerjanya! Dan aku sangat terngiang oleh kalimat seorang dosen ‘AND POLICE DO NOTHING’ saat beliau membicarakan tentang lalu lintas di Bogor. Haduuuh, harus diapakan Bogor ini?
  3. Rambu-rambu lalu lintas di sana mantap, jelas, berfungsi, terawat, keren lah pokoknya.
  4. Singapura lebih menghargai PEJALAN KAKI!!!! Trotoar di sana BERSIH, NYAMAN, dan HIJAU. Toko-toko di pinggir jalan alias kaki lima pun tertata dengan rapi, tidak menghalangi kenyamanan pejalan kaki. Mau nyebrang? InsyaAllah lebih aman dan nyaman, karena zebra cross di sana berfungsi dan dibantu oleh lampu penyebrangan serta kendaraan-kendaraan di sana pun lebih menghargai para pejalan kaki. Asik lah.
  5. Ada lagi nih transportasi umum kerennya. MRT! Mass Rapid Transport. Kereta bawah tanah modern. CEPAT, NYAMAN, BERSIH, TERATUR,  DAN MODERN. Jadi berasa keren gitu naik kereta hehehe. Pengemis? Nggak ada kayanya. Pedagang asongan dan pengamen di? Nggak ada! Bayar tiket? Sama mesin. Budaya antri berlaku di sana. Penumpang yang akan naik harus menunggu dan menghargai penumpang yang mau turun atau keluar dari kereta. Lagi-lagi menghargai! Lagi-lagi, asik!

Beginilah, sekilas tentang  kerennya lalu lintas Singapura. Keren bukan, kawan?

Ternyata, alhamdulillah, hotel kami bersebelahan dengan masjid Al-Fatah. Setelah maghrib, kami keluar hotel untuk jalan-jalan. Ternyata, uwa sudah lebih dulu keluar, sepertinya ke masjid sebelah dan memang sudah masuk waktu isya serta sedang ada acara di sana. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari uwa dengan mengamati sandal-sandal yang ada di luar masjid. Wah, ternyata aku tidak menemukan sandal uwa. Saat aku berbalik ingin pergi, ada ibu-ibu yang menyapaku. Lagi-lagi aku lupa susunan kalimatnya, pakai bahasa Inggris pula. Pada intinya, Ibu itu mengajak aku untuk mengikuti acara. Ibu itu bertanya tentang asalku dan bertanya apakah aku berbicara dalam bahasa Inggris. Setelah ngobrol sebentar, ibu itu memberiku sekotak makanan. Wah, alhamdulillah baru aja sampai, sudah dapat rezeki. Padahal, aku tidak mengikuti acaranya. Setelah itu, aku dan keluarga akhirnya sholat Isya di masjid itu. Alhamdulillah, target pertamaku terpenuhi. Aku berharap bisa sholat kembali di sini amiin. Dan tahukah kawan, kotak makanan pemberian ibu itu ternyata berisi Nasi Kebuli. Sebelumnya aku belum pernah makan nasi itu. Inilah pengalaman unik yang kedua.

Keesokan harinya, kami mengunjungi toko buku Borders. Wiih, luasnya mengagumkan. Buku-bukunya berbahasa Inggris. Kata uwa, Pak Amien Rais suka datang ke toko buku ini. Di sana, alhamdulillah target keduaku terpenuhi. Aku membeli satu buku berbahasa Inggris di sana. Judulnya adalah Does My Head Look Big in This? Karangan Randa Abdel Fattah. Selepas membeli buku, kami naik MRT menuju Merlion Park yang terkenal itu. Sebelum memasuki stasiun MRT, kami bertemu beberapa murid sekolah di trotoar. Mereka menyodorkan sebuah celengan dan bagi siapa yang menyumbang, dia akan mendapatkan sebuah sticker kecil bertuliskan nama sebuah rumah sakit di Singapura. Oh, ternyata, dana yang mereka minta, akan disumbangkan untuk rumah sakit itu. Ini pemandangan yang jarang terlihat di Indonesia. Kebanyakan yang meminta di stasiun adalah… ya, kalian tahu sendiri hehehe. Sampai di Merlion Park, kami berfoto dan istirahat sebentar karena tadi sudah berjalan kaki cukup jauh. Setelah itu, kami naik sebuah perahu (aduh, lagi-lagi lupa namanya. Maaf ya…) untuk menyusuri sungai Singapura. Hei, entah kenapa aku merasa nyaman sekali menyusuri sungai yang tak terlalu panjang itu. Aku merasa sangat senang melihat pemandangan di kanan-kiri sungai. Ini suatu bentuk wisata yang sederhana. Hanya ada sungaai, menyusuri perahu, musik di perahu, pemandangan di sisi-sisi sungai, dan pemberitahuan sejarah jembatan-jembatan yang ada di atas sungai itu. Sederhana, bukan? Aku berpikir, andai saja sungai-sungai di Indonesia serta daerah sekitarnya bisa terawat dengan baik, wisata sederhana macam tadi itu bisa diterapkan dan negara akan mendapatkan banyak kentungan. Berapa banyak sungai yang dimiliki Indonesia? Banyak sekali bukan? Aku jadi berpikir lagi, bagaimana ya caranya membersihkan sungai?  Itulah pelajaran dari Negeri Singa yang paling menarik bagiku.

Tibalah waktunya untuk pulang ke Indonesia. Rasanya, kami belum ingin pergi. Adik sepupuku saja sampai menangis karena belum ingin pulang. Anak kecil pun tahu. Aku pun berharap semoga aku bisa kembali lagi ke sini untuk belajar. Belajar lebih banyak. Semoga banyak pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini, dari Singapura. Amiin. Aku mohon maaf ya kawan, karena cerita ini tidak didukung oleh foto. Semoga aku bisa cepat memiliki kamera hehehe amiin.